
Kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !
About Me
Pelatihan Blog
Sabtu dan Minggu yang kami mengikuti pelatihan pembuatan blog di MasjidAl Akbar Surabaya. Acaranya sangat inspiratif dan menggugah peserta untuk menulis dan membuat tulisan di blog dalam dua hari.
“Banyak hal yang saya dapatkan dengan mengikuti pelatihan ini, teknik-teknik pembuatan yang sebelumnya belum saya ketahui sama sekali, di jelaskan secara tuntas, seru dan chayoo untuk teman-teman dan panitia….”
“Mentornya asyik, komunikatif, enak buat di tanya-tanya dan acaranya tidak bikin bête. Suasananya kekeluargaan.”
jadilah orang pertama yang ikut pelatihan ini. See Y
Salam Inspirasi
Al Akbar
Kembali ke Masjid Al Akbar, segala sesuatunya memang “akbar” di sini. Menara yang juga merupakan “paket” dari bangunan-bangunan masjid juga dibangun dalam skala yang mengikuti kebesaran bangunan lain, meski secara fungsional bisa sedikit diperdebatkan. Menara masjid muncul dalam pemahaman yang sedikit misintepretasi. Banyak yang mengemukakan teori bahwa menara masjid awalnya muncul sebagai minaret yang dipakai muazin untuk menyerukan azan. Tapi gue lebih condong ke teori yang menyatakan kalo bangunan menara (yang terpisah) itu sebetulnya diambil dari tipologi bangunan benteng sebagai mekanisme pengawasan, yang kemudian diadopsi arsitektur byzantium sebagai “aksesoris” bangunan istana atau gereja. Tetapi saat ini menara tampak sebagai aksesori wajib dari bangunan masjid. Begitu juga dengan dome. Pada arsitektur masjid Al Akbar, dome menjadi elemen utama. Dengan bentuk bawang, dome yang ternyata mosaik dari keramik berwarna hijau ganggang dan biru laut (yang sekaligus menjelaskan tentang jawaban “perselisihan” warna di atas – pen) ini menjadi identitas utama dari Masjid Al Akbar. Dome pada masjid juga muncul dari arsitektur byzantium. Dulunya berkembang dari kreativitas tektonis bangsa romawi dengan menciptakan lengkung yang dimodifikasi. Dome ini juga menjadi salah satu lambang arsitektur mesjid di Indonesia, termasuk masjid Al Akbar yang menggunakan atap bawang-nya sebagai simbol utama. Paradigma yang mulai dikikis oleh arsitek masjid kontemporer Indonesia, Ahmad Noe’man, dengan rancangan bangunan masjid Salman di ITB dan beberapa masjid lain.
It’s show time
Thomas Edison adalah seorang ilmuwan terbesar di dunia. Sekitar seratus dua puluh tahun telah berlalu sejak ia menemukan bola lampu. Dalam masa ini, bola lampu telah menjadi bagian penting kehidupan manusia. Kini, jutaan bola lampu mungil bersama-sama menerangi kota-kota besar di seluruh dunia.
Penerangan menjadi suatu simbul penting bagi peradaban ini. Namun, ada sumber penerangan lain. Kita tentunya pernah menjumpai cahaya kecil yang menerangi kegelapan malam hari. Cahayanya begitu kuat dan terang, namun sumber penerangan ini sangatlah berbeda dengan bola lampu. Bahkan ia sama sekali bukanlah benda, melainkan makhluk hidup. Ia adalah seekor kunang-kunang. Makhluk kecil ini menghasilkan cahaya dalam tubuhnya meski ia tidak memiliki bola lampu. Meskipun tidak menggunakan listrik, ia memiliki teknologi yang jauh lebih hebat. Teknologi ini lebih efektif dari bola lampu yang mampu merubah sepuluh persen saja dari energinya menjadi cahaya, sedangkan sembilan puluh persen sisanya berubah dan hilang menjadi panas.
Sebaliknya, kunang-kunang mampu menghasilkan hampir seratus persen cahaya dari energi yang ada. Ini dikarenakan disain sempurna pada sistem penghasil cahaya yang dimilikinya. Tubuhnya berisi zat kimia khusus bernama lusiferin, dan enzim yang disebut lusiferase. Untuk menghasilkan cahaya, dua zat kimia ini bercampur, dan percampuran ini menghasilkan energi dalam bentuk cahaya. Molekul kompleks ini telah didisain secara khusus untuk memancarkan cahaya. Penempatan setiap atom yang membentuk molekul tersebut telah ditentukan sesuai dengan tujuan ini. Tidak ada keraguan bahwa disain biokimia ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia sengaja diciptakan secara khusus. Sebagaimana Allah telah memberi semua makhluk hidup ciri mereka masing-masing, Dia juga telah mengajarkan kunang-kunang cara membuat cahaya.

